Latest News

Produk Ekolabel Di Indonesia Baru Tipe II

Bisnis.com, TANGERANG—Berbagai produk di Tanah Air kini baru mencapai tahapan ekolabel tipe II, dengan kata lain Indonesia masih jauh dari penerapan life cycle assessment (LCA) secara penuh. LCA merupakan metode pengukuran potensi dampak lingkungan suatu produk dengan memperhitungkan rangkaian proses produk. LCA tidak hanya mencakup produk tetapi juga siklus hidup produk seperti pengambilan bahan baku, produksi, distribusi, konsumsi, sampai pembuangan. Tri Hendro Utomo, Tim Pusat Standarisasi Lingkungan dan Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), mengatakan Indonesia baru mencapai sertifikasi ekolabel tipe satu dan dua, sedangkan tipe tiga belum ada. “Produk yang punya dampak signifikan terhadap lingkungan kami haruskan memenuhi kriteria ekolabel,” ucapnya, Rabu (25/11/2015). Sekarang ini terdapat 43 produk yang beredar di pasar domestik dengan ekolabel tiga pertama. Terbanyak produk-produk cat. Adapun yang mengadopsi ekolabel tipe kedua ada 14 produk. Barang yang paling banyak adalah detergen. Tri menjelaskan Ekolabel Tipe I adalah produk yang mendapatkan label lingkungan atau Ekolabel dari Lembaga Sertifikasi Ekolabel dalam maupun luar negeri. Untuk mendapatkan Ekolabel Tipe I suatu produk terlebih dahulu harus memenuhi kriteria Ekolabel Produk yang telah ditetapkan. Produk yang mendapat label tipe tersebut merupakan barang yang beredar di Indonesia dari dalam negeri maupun luar negeri. Identifikasi terhadap produk ini di pasaran adalah dengan melihat logo ekolabel pada produk, kemasan atau media lainnya. Sementara itu, Ekolabel Tipe II isinya produk yang memiliki deklarasi aspek lingkungan. Klaim aspek lingkungan ini bisa dilakukan sendiri oleh produsen, distributor, pemegang merek atau pihak lainnya yang mendapat manfaat dari klaim tersebut. Deklarasi itu tidak perlu diverifikasi pihak ketiga tetapi yang pasti klaim tersebut mengikuti ketentuan yang berlaku. Identifikasi terhadap produk ini di pasaran adalah dengan melihat klaim...
read more

SNI Ekolabel: Aspek Lingkungan Jadi Pertimbangan Negara Tujuan Ekspor

Bisnis.com, TANGERANG — Ketua Indonesian Life Cycle Assessment Network (ILCAN) Edi Iswanto Wiloso mengatakan saat ini negara-negara tujuan ekspor terutama Eropa banyak yang lebih memerhatikan aspek ramah lingkungan produk. Mereka menetapkan kriteria bahwa produk yang diimpor harus memiliki ekolabel tertentu. Hal ini dipakai sebagai jaminan bahwa barang bersangkutan memiliki daur hidup yang terbilang ramah lingkungan. Atau, setidaknya dapat diketahui berapa emisi karbon yang dihasilkan. “Kalau kita tidak melakukan itu, maka produk kita menjadi tidak kompetitif sehingga ditolak oleh mereka ,” ucap Edi, Selasa (24/11/2015). Untuk mengkaji dampak lingkungan suatu produk bisa menggunakan life cycle assessment (LCA). Dampak ini tidak hanya diperhitungkan dari produk itu sendiri melainkan seluruh proses mulai dari pengambilan bahan baku, produksi, distribusi, pemakaian, sampai pembuangannya. “Produk-produk yang harus segera merintis analisis daur hidup adalah dari sektor agribisnis,” ujar Edi. Di tingkat global, tata cara untuk melihat potensi dampak lingkungan produk diatur dalam standar ISO 14021, 14024, dan 14025 tentang Environmental Labels and Declarations. Hal ini tidak hanya berlaku untuk produk melainkan juga jasa. Sumber:...
read more

Penerapan Analisis Daur Hidup Produk Minim

Bisnis.com, TANGERANG– Pendalaman penerapan life cycle assesment (LCA) di Indonesia perlu didorong mengingat implementasi dan kajiannya sekarang terbilang minim. Sejumlah negara di Eropa dan Amerika sekarang menetapkan standar ramah lingkungan di seluruh lini produksi melalui LCA. Ini adalah metode untuk menghitung potensi dampak lingkungan suatu produk. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT) Laksana Tri Handoko mengatakan di Indonesia pemahaman tentang LCA belum sepenuhnya dimengerti kalangan industri. “Beberapa produk ekspor Indonesia pernah ditolak pasar Eropa dan Amerika karena tidak sesuai dengan LCA,” ujarnya di sela workshop LCA research in Indonesia, di Tangerang, Selasa (24/11/2015). Sebagaimetode pengukuran potensi dampak lingkungan, LCA mampu memperhitungkan dampaknya dari rangkaian proses produk. Ruang lingkup LCA tidak hanya pada produk jadi tetapi juga meliputi siklus hidup produk dari manufaktur, distribusi, sampai pembuangan akhir. Di tingkat global tata cara untuk melihat dampak lingkungan produk diatur dalam standar ISO 14021, 14024, dan 14025 tentang environmental labels and declaration. “Terminologi produk tidak terbatas pada barang tetapi juga jasa, bahkan organisasinya,” ujar Laksana. Sementara itu kini terjadi pergeseran tren konsumsi dunia. Konsumen bersedia membeli produk ramah lingkungan dengan harga lebih mahal. Melihat perubahan cara pandang konsumen inilah, produk di Tanah Air harus memerhatikan ecolabel.  Sumber:...
read more

Kalangan Industri Belum Sepenuhnya Sentuh Life Cycle Assesment

JAKARTA (erabaru.net) – Sejumlah negara Eropa dan Amerika saat ini telah menetapkan standar ramah lingkungan di seluruh lini produksi lewat Life Cycle Assesment (LCA), yaitu metode untuk menghitung potensi dampak lingkungan suatu produk. Sementara di Indonesia, pemahaman tentang LCA masih belum sepenuhnya dipahami oleh kalangan industri. “Beberapa produk ekspor Indonesia pernah ditolak oleh pasar Eropa dan Amerika karena tidak sesuai LCA,” jelas Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT) LIPI, Laksana Tri Handoko dalam rilisnya di Jakarta, Rabu (25/11/2015). Menurut Handoko, pada tingkat global tatacara untuk melihat potensi dampak lingkungan produk diatur dalam standard ISO 14021, 14024, dan 14025 tentang Environmental Labels and Declarations. Bahkan terminologi produk tidak terbatas pada barang tetapi juga jasa tapi organisasi. Handoko mengungkapkan saat ini terjadi pergeseran tren konsumsi dunia. Dia menambahkan konsumen bersedia membeli produk dengan label ramah lingkungan meskipun dengan harga yang lebih tinggi. Dia menilai berdasarkan perubahan pandang konsumen inilah yang membuat produk Indonesia juga harus memperhatikan ecolabel ini. Hal demikian diungkap oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang menggelar workshop “Life Cycle Assessment (LCA) Research in Indonesia” pada Selasa-Rabu, 24-25 November 2015 di Graha Widya Bakti, Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Pupspiptek), Serpong,Tangerang Selatan. Sementara Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI, Agus Haryono mengatakan, penerapan LCA sangat bermanfaat terutama bila proses pembuatan produk yang dikembangkan merupakan produk alternatif yang ramah lingkungan. “Sayangnya kajian literatur dan penelitian di Indonesia tentang LCA baru tahap awal perkembangannya saja dan jumlahnya masih terbatas,” jelasnya. Agus menjelaskan, untuk menerapkan LCA Indonesia idealnya harus memiliki dasar riset yang mencukupi sehingga dunia industri paham. Dia menuturkan, jumlah publikasi ilmiah tentang LCA di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan negara...
read more
Page 5 of 7« First...34567

Translate »